Menelusuri Jejak Pesta Adat Erau Tenggarong Lewat Foto Arsip Era Kolonial

Foto: Tropenmuseum / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)/Masyarakat Dayak saat pesta adat Erau di Tenggarong

Satu lembar foto arsip dapat menyimpan ribuan kisah dari masa lalu. Foto dokumentasi koleksi Tropenmuseum yang diambil sekitar era 1910–1930-an ini mengabadikan momen berharga: perayaan Pesta Adat Erau di Tenggarong, pusat Kesultanan Kutai Kartanegara pada masa Hindia Belanda.   Mari kita bedah detail menarik di dalam foto ini dan menelusuri makna sejarah di baliknya.


Pakaian Adat dan Senjata Tradisional.

Di bagian depan foto, tampak sekelompok pria etnis Dayak berdiri gagah memegang perlengkapan adat lengkap:   

  • Busana dan Atribut: Mereka mengenakan cawat (cawa) khas dan hiasan kepala (ikat kepala) berhiaskan bulu burung enggang yang mekar indah. Sebagian tidak mengenakan baju atas untuk menampilkan tato tradisional (kalingai) yang menjadi simbol kebanggaan dan status sosial.
  • Perisai (Kelembit): Dua pria di tengah memegang perisai kayu khas Dayak yang diukir rumit dengan pola ornamen khas serta dihiasi rumbai rambut.
  • Senjata Tradisional: Terlihat pula mereka memegang sumpit (sipet) beserta mandau yang terselip di pinggang, siap menampilkan tari-tarian perang (Tari Nganjat atau Kancet Papatai) untuk menyemarakkan pesta adat.  


Pertemuan Budaya Lokal dan Eropa.

Foto tersebut diambil di lapangan terbuka di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, tepatnya di sekitar area Kedaton/Istana Sultan Kutai.   

Jika memerhatikan area latar belakang, terdapat kontras yang sangat menarik:

  • Masyarakat Lokal: Warga lokal dan tokoh adat berkumpul menyaksikan jalannya ritual dari jarak dekat.  
  • Pejabat dan Warga Belanda: Di sisi kiri belakang, tampak beberapa orang Eropa/Belanda berdiri mengenakan setelan jas putih lengkap dengan topi peth (pith helmet) ala pejabat kolonial. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Pesta Adat Erau pada masa itu juga menjadi agenda penting yang dihadiri oleh tamu kehormatan dan pejabat pemerintah Hindia Belanda.   


Apa Itu Pesta Adat Erau?

Kata Erau berasal dari bahasa lokal eroh yang berarti riuh, ramai, dan penuh sukacita.

Erau adalah tradisi ritual adat tertua di Kalimantan Timur yang diselenggarakan oleh Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Awalnya, Erau digelar untuk acara-acara sakral kerajaan, seperti:

  • Penobatan/Pengangkatan Sultan baru.
  • Pemberian gelar dari Sultan kepada tokoh masyarakat.
  • Hajatan besar kerajaan (kelahiran anak Sultan atau pernikahan).

Dalam perkembangannya, Erau menjadi pesta rakyat tempat berkumpulnya berbagai etnis di Kalimantan Timur—mulai dari suku Kutai, Dayak, hingga Banjar untuk mengucap syukur kepada Sang Pencipta dan mempererat silaturahmi.


Keberlanjutan Tradisi Erau.

Meskipun foto ini diambil hampir satu abad yang lalu, gelaran Erau tidak pernah padam. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara bersama Kerabat Kesultanan Kutai rutin menggelar festival ini setiap tahun dengan nama Erau Adat Pelas Benua.   

Rangkaian ritual sakralnya seperti Beluluh, Menjamu Benua, hingga prosesi puncaknya Mengulur Naga dan Belimbur (saling menyiram air) tetap dilestarikan dan kini menjadi salah satu agenda festival budaya terbesar di Indonesia yang menarik wisatawan mancanegara.


Daftar Pustaka & Sumber Rujukan

  • Tropenmuseum Belanda – Koleksi Arsip Foto Hindia Belanda (1910–1930).
  • Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara – Sejarah dan Tata Cara Pesta Adat Erau.
  • Kemendikbudristek RI – Warisan Budaya Takbenda: Upacara Adat Erau Pelas Benua.

0 Comments

Posting Komentar